Site Search

Banner


Obyek Wisata gua Seplawan

Kompas. Jalan untuk mencapai lokasi gua Seplawan sudah rapi dan beraspal selebar 3 meter. Jalan diaspal setelah ditemukan arca emas 22 karat seberat 1,5 kilogram. Dahulu untuk mencapai gua Seplawan orang harus berjalan kaki dari kota Kecamatan Kaligesing (pal pitu), karena kendaraan tak dapat melaluinya.

Tetapi sekarang sudah lain keadaannya, selain sarana perhubungan mulai lancar juga jajaran pepohonan mulai diatur dan tampak apik. Pokoknya dalam suasana bebenah diri untuk menjadi obyek wisata di Kabupaten Purworejo.

Bila dilihat pada peta geologi lembar Yogyakarta, Jawa, oleh Wartono Rahardjo; Sukandarrumidi; HMD Rosidi, maka akan terlihat bahwa formasi daerah ini dikenal sebagai formasi Jonggrangan yang terletak di kawasan Pegunungan Menoreh. Bagian bawah terdiri dari konglomerat yang ditindih oleh napal tufan dan batu pasir gampingan dengan sisipan lignit. Batuan ini ke arah atas berubah menjadi batu gamping dan batu gamping koral, batu gamping membentuk bukit kerucut sekitar Desa Jonggrangan. Formasi; dianggap berumur Miosen bawah. Pada bagian bawah formasi Jonggrangan berhubungan dengan bagian bawah formasi Sentolo (Pringgoprawiro, 1968 hal 7). Ketebalan kira-kira 250 meter. Formasi Jonggrangan ini cukup luas dan merupakan daerah

berbatu gamping. Dilihat dari keadaan ini, Gua Seplawan yang terdapat pada formasi Jonggrangan diduga merupakan suatu rangkaian ruangan bawah tanah yang membentuk suatu sistem gua yang amat besar. Pada dataran tinggi Jonggrangan yang mempunyai ketinggian lebih kurang 750 meter di atas muka laut juga terdapat serangkaian lembah. Pada salah satu lembah yang membentuk mangkuk, terletak mulut Gua Seplawan.

Untuk mencapai mulut gua itu sendiri, orang harus menggunakan tangga dan jembatan bambu yang sudah tersedia, dan turun sejauh lebih kurang 10 meter. Lembah itu sendiri mempunyai pemandangan yang cukup indah dengan udara nyaman. Fasilitas yang ada di Gua Seplawan berupa warung makan, tempat disel, Ioket karcis, tempat istirahat dan pos penjaga. Semuanya masih sederhana dan tidak permanen. Di dalam gua, sebagian sudah dipasang lampu, tetapi perlu dibenahi lagi. Sebaiknya lampu dan kabel tidak terlihat oleh pengunjung. Hanya sinar lampu saja yang menerangi bagian-bagian indah dalam gua. Lebih baik lagi kalau ada jatah lampu sorot yang dapat diatur ke segala arah. Bila dikombinasikan dengan pemadaman lampu secara total, maka dapat

menimbulkan pengaruh kejiwaan pada pengunjung dan kesan seram di dalam gua. Ini kan lebih menarik. Jembatan bambu yang sudah ada diperkirakan tidak bertahan lama dan perlu dibangun jembatan/tangga baru yang lebih permanen.

Untuk ongkos masuk mesti bayar Rp 150 tiap kepala dan ongkos titipan barang Rp 50. Cukup murah memang untuk ukuran kantong orang kota. Pada hari-hari biasa, jumlah pengunjung sedikit. Untuk hari libur atau Minggu, jumlah pengunjung cukup lumayan. Dapat dimaklumi karena obyek wisata ini baru dibuka dan belum dikenal. Apalagi olah raga masuk gua (caving) dan gua sebagai obyek wisata masih merupakan barang baru di Indonesia, sehingga orang masih ragu dan bertanya-tanya.

Kalau di lihat dari cara pengunjung yang masuk gua cukup rawan juga. Soalnya Gua Seplawan baru dibuka dan masih ada lorong yang belum ditemukan ujungnya. Juga ada lorong berliku-liku tak tentu arah dan terdapat sumuran berair. Biasanya pengunjung sampai saat ini melepas sepatu dan barang lain di luar gua kemudian baru masuk seenaknya. Padahal Gua Seplawan tak dapat dibuat gegabah dan main-main. Ukuran tinggi atap sampai 20 meter lebih dan lebar gua sekitar 15 meter dengan tinggi Iumpur di beberapa tempat sampai pinggang bukan ukuran untuk bercanda dan keluar masuk gua seenaknya. Belum lagi mereka masuk sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil tanpa pengantar. Nah, kalau ini dikaitkan dengan bahaya yang dapat timbul di dalam gua setiap saat, saya tidak berani membayangkan bencana yang akan terjadi. Mungkin jaman SAR gua akan segera dimulai dan Specavina (Persatuan Speleologi dan Caving Indonesia) atau Pusarnas akan tambah kerjaan lagi. Diharapkan dengan dijadikannya Gua Seplawan sebagai obyek wisata hal-hal demikian juga mulai dipikirkan. Kalau hanya soal membangun saja, itu soal gampang, asal ada duit maka semua akan lancar. Tapi perlu dikaji masalah lain yang juga penting, yaitu bagaimana sistem penanganan dan pemeliharaan selanjutnya, serta pencegahan pengaruh negatip yang akan timbul dengan dijadikannya Gua Seplawan sebagai obyek wisata. Sebagai contoh: bila ada pengunjung yang mau seenaknya sendiri keluar-masuk gua, Hal ini jelas amat membahayakan keselamatan dirinya maupun orang lain. Dan.... bila musibah sudah terlanjur terjadi, siapa yang akan bertanggung jawab??? Baiklah kita kaji bersama masalah ini.

Sebaiknya pengunjung dibagi dalam regu berjumlah (15-20) orang dan diantar oleh petugas Gua Seplawan. Pengunjung tidak boleh keluar-masuk sendiri. Petugas bertanggung-jawab penuh atas keselamatan pengunjung dan mengawasi tingkah lakunya. Soalnya tangan suka gatal dan usil, coret sana coret sini untuk menunjukkan keakuan dan identitas dirinya, belum lagi mematahkan formasi batuan (stalaktit, Flowstone.... dan sebagainya). Entah hanya sekedar iseng atau untuk oleh-oleh pacar di rumah. Di sini peranan petugas akan nyata terlihat, dapat memperingatkan dan menindak tegas demi kelestarian warisan ini. Selama perjalanan, petugas dapat menerangkan kisah legenda gua, nama tempat, formasi batuan, proses terbentuknya gua.... dan sebagainya. Tetapi ini dibutuhkan tanda penunjuk jalan dan papan nama tempat di dalam gua, kalau mungkin sekalian dengan denah gua yang dipasang di dalam gua. Agar petugas dapat dengan baik ( menjalankan misinya, petugas harus menguasai masalahnya dengan jelas, di sini diperlukan penataran khusus pula terhadap petugas. Satu hal lagi, diusahakan jalan keluar jangan menjadi satu dengan jalan masuk, sehingga bila pengunjung ramai tidak berdesakan dan saling injak. Kemudian jangan lupa disediakan tempat sampah khusus di luar dan di dalam gua dengan jumlah yang memadai. Mudah-mudahan hal-hal ini dan masih banyak hal penting lagi menjadi bahan pemikiran dan yang berwenang.

Arca emas

Tanggal 28 Agustus 1979 telah ditemukan arca emas 22 karat seberat 1,5 kilogram di dalam Gua Seplawan oleh Pak Tjokrotinojo, Kodri, Mudjiono dan Sumiredjo. Konon gara-gara arca inilah Goa Seplawan buru-buru dikebut dan akan disulap meniadi obyek wisata dalam waktu singkat. Banyak pihak berdatangan dan mulai menunjukkan perhatian. Asal jangan terlalu banyak campur tangan saja. Jalan diaspal dan Gua Seplawan mulai diatur. Akibatnya karena banyak pengunjung yang tak tahu arah, gua mulai penuh coretan dan dijahili. Arca yang ditemuktan berupa sepasang patung pria dan wanita yang sedang bergandengan tangan. Arca pria tingginya lebih kurang 12 cm dan yang wanita lebih kurang 10 cm. Bersama arca ini ditemukan pula: alas arca, bantalan arca, sendok, pancuran air dan perhiasan (mosaik). Semua penemuan

benda sejarah ini terletak pada suatu tempat yang disebut kendaga (bejana perunggu). Selain itu ditemukan pula fosil gigi binatang dan tulang sebesar tapak  tangan yang sampai saat ini disimpan di kantor P & K Kaligesing (1979). Benda lain yaitu belanga (kuali) dan tutupnya (1980), dua buah bekas fondasi bangunan kuno dengan lingga dan yoni, tulisan huruf Jawa kuno dan Sanskerta, lukisan (relief) dan cincin emas.

Berdasarkan data yang diperoleh dan penyelidikan, diduga ada hubungan antara penemuan arca di Gua Seplawan dengan penemuan atau tanda-tanda pada Candi Borobudur Jawa Tengah. Diperkirakan arca tersebut berasal sekitar abad VIII - IX M sesuai dengan usia penemuan benda bersejarah pada jaman itu. Penemuan ini amat penting, siapa tahu dengan ditemukannya arca dari abad itu misteri tabir sejarah akan sedikit terungkap. Mudah-mudahan ada orang yang akan memperhatikan keadaan ini.

Konon pada tahun 1974 Pak Tjokrotinojo, salah seorang penemu arca, mendapat "wangsit'' (ilham), seolah-olah di dalam Gua Seplawan terlihat suatu nyala seperti lampu, tetapi bila didekati nyala itu hilang dengan sendirinya. Kemudian pada tahun 1976 seolah-olah melihat seperti pelangi pada Gua Seplawan yang mengakibatkan cahaya terang di sekitar Gua. Dan akhirnva pada tahun 1979 seolah-olah mendapat dorongan untuk masuk ke gua dan arca emaspun ditemukan sejauh lebih kurang 500 meter dari mulut gua, di atas flowstone setinggi lebih kurang 10 meter pada suatu lekukan dinding gua. Maka jaman baru bagi Gua Seplawan sudah dimulai.

Bandung Bondowoso dan Loro Jonggrang
Ada legenda (dongeng) yang terus hidup dan beredar di kalangan masyarakat yang menjadi warisan turun temurun. Kisah Bandung Bondowoso yang jatuh cinta pada Loro Jonggrang, puteri kerajaan Prambanan. Karena Bandung Bondowoso membunuh Prabu Boko (ayah Loro Jonggrang) dalam suatu pertempuran dahsyat, maka Loro Jonggrang menolak lamaran Bandung Bondowoso. Untuk itu diajukan syarat berat sebagai mas kawin agar Bandung Bondowoso membangun candi sebanyak seribu buah dalam waktu semalam (Candi Sewu). Berkat kesaktian Bandung Bondowoso dan bantuan ”jin-jin'' anak buahnya, menjelang pagi telah dibangun candi sebanyak 998 buah. Melihat hal ini Loro Jonggrang menjadi gelisah dan dicari suatu akal agar maksud Bandung Bondowoso gagal. Penduduk diminta memukul lesung (tempat menumbuk padi) yang diikuti ayam jantan berkokok agar dikira hari sudah pagi. "Jin-jin" pun lari terbirit-birit dan candi tak dapat diselesaikan. Bandung Bondowoso marah dan mengejar Loro Jonggrang. Ketika sampai di tepi sumur, dan sekali lagi karena politik Loro Jonggrang, maka Bandung Bondowoso didorong masuk ke dalam sumur tetapi Loro Jonggrang sendiri juga terjatuh dan tewas bersama di dasar sumur. Sumur itu sekarang dikenal dengan Gua (sumur) Temanten. 

Itulah semuanya, mulai dari "wangsit" (ilham) hingga legenda. Semuanya merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Tentu ada maksud atau tujuan tertentu di balik itu semua, terlepas dari benar atau tidaknya dongeng itu. Diharapkan ada orang yang mau mempelajari masalah dongeng alam Indonesia yang kaya ini. Minimal kita harus menghormatinya, bukankah ini warisan budaya kita??

Survey dan pemetaan
Pada bulan Oktober 198l Persatuan Speleologi Dan Caving Indonesia (Specavina) bersama dengan Museum Geologi Bandung melakukan survey dan pemetaan Gua Seplawan guna kepentingan obyek wisata. Kegiatan ini disponsori oleh Pemda dan Bapeda Jawa Tengah. Diselidiki setiap lorong dan dicari bagian-bagian indah untuk kemungkinan obyek wisata. Diharapkan dengan dijadikannya Gua Seplawan sebagai obyek wisata, tidak akan mengganggu ekosistem dari gua itu sendiri. Tidak perlu semua gua dibuka untuk umum. Sebaiknva ada bagian-bagian tertentu dibiarkan tertutup dan dilestarikan. Misalnya, lorong yang penuh keleIawar atau lorong yang sulit, biarkanlah bagian-bagian ini tetap asli dan hidup sebagaimana mestinya. Dengan demikian daur kehidupan dalam gua tetap terjaga. Pada bagian-bagian inilah penyelidikan ilmiah dapat dilakukan yang akan lebih bermanfaat. Sebagai perbandingan, gua-gua di luar negeri yang dijadikan obyek wisata, penanganannya hati-hati sekali. Sebelum suatu gua divonis sebagai obyek wisata, dibicarakan dahulu dalam forum terbuka. Para ahli dari berbagai bidang diundang untuk ditanya pendapatnya, baik dari segi keamanan, kelestarian maupun segi ekonomis. Pada prinsipnya gangguan akibat

obyek wisata diusahakan sesedikit mungkin, Seperti Cumberland Caverns (Tennessee) dan Carlsbad Caverns (New Mexico) di Amerika Serikat. Dua gua terbesar di Amerika Serikat ini telah di buka sebagai obyek wisata. Penanganannya sedemikian maju dan terarah, entah kapan Indonesia mampu melakukannya sendiri, dengan kualitas yang sama. Gua-gua ini yang digunakan sebagai obyek wisata hanya seperlima bagian, dan orang sudah cukup "mabok" untuk sekedar mengelilinginya.

Gua Seplawan sudah memasuki era baru dan mulai digarap akibat obyek wisata sudah tampak, karena kesadaran pengunjung masih sedikit yaitu berupa coretan. Kelelawar pun sudah ngabur ke bagian yang paling dalam. Memang susah untuk menangani obyek wisata gua karena urusannya amat kompleks dan tidak sederhana. Sekali lagi masalah kelestarian alam jangan dilupakan, jangan hanya dipikirkan dari segi komersil saja. Sayang kan bila warisan purba ini rusak begitu saja.

Nah, mudah-mudahan tidak salah urus dan menjadi tidak keruan, tetapi justru menjadi tantangan positip yang membangun bagi siapa saja.

Salam Gua,
Budi Hartono Purnomo




Comments  

 
0 #2 qinthar 2011-01-15 17:08

wah...... jalan ke gua splawan tu liku liku........... bikin aku pusing. tapi dengan keindahan gua, pusing ini dpt diobati,,,,,,,,
Quote
 
 
0 #1 sumi 2010-10-02 09:35
siapa orang yg sudah tembus Gua seplawan???
gimana dgn jalur caving??
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh